Kisah Pengalaman Febian, Dari Tangerang Ke Tambang Australia
Nama gue Febian Rachman, umur tiga puluh tahun. Anak Tangerang asli. Dan di sini, di kamar kos Perth yang cuma tiga kali tiga meter, gue baru nyadar kalo rekening tabungan gue udah nyentuh angka 1,5 miliar rupiah. Gak nyangka. Air mata tiba-tiba netes sendiri, campur aduk antara bangga, lelah, dan rindu yang sakit banget.
Semuanya berangkat dari niat iseng. Taun 2021, gue kesini pake visa turis, cuma mau liat-liat, cari angin. Nyokap bilang, “Febian, jangan nekat!” Tapi hati kecil gue bisik, “Coba aja.” Visa turis hampir abis, gue ambil jalan pintas: daftar kuliah singkat, ganti jadi visa pelajar. Uang dari jual motor Beat dan tabungan seadanya ludes buat bayar deposit dan SPP beberapa bulan. Misi satu-satunya: kerja.
Minggu-minggu awal itu neraka. Gue jualan sate ayam keliling pake sepeda bekas, berangkat subuh, pulang malem. Dinginnya angin malam Perth beda sama angin Tangerang, dia nyusup samai ke tulang. Pernah juga jadi tukang bersihin kebun orang, tangan gue lecet-lecet pegang gunting rumput. Gaji per jam, hidup dari hari ke hari. Tidur di sofa rusak apartemen temen, makan mi instant tiga kali sehari. Rindu rumah? Itu barang mewah. Setiap nelpon keluarga, gue pake filter biar background-nya keliatan bagus, bilangnya, “Gue oke kok, Ma.”
Titik baliknya pas gue dapet info soal kerja FIFO (Fly In Fly Out) buat cleaner di area pertambangan. Mereka butuh orang yang kuat, mau tinggal di pedalaman, kerja shift panjang. Gue daftar. Interview-nya cuma satu: “Bisa kerja keras? Gak takut jauh dari kota?” Gue jawab, “Saya terbiasa, Pak.” Dalam hati, gue udah ahli dalam kerja keras dan kesepian.
Pertama kali naik pesawat kecil ke situs tambang di pedalaman Australia Barat, gue kaget. Lautan tanah merah, langit luas banget, dan fasilitas yang mewah tapi terisolir. Tugas gue bersihkan camp: kamar mandi, dapur umum, ruang rekreasi. Kerja 12 jam sehari, 2 minggu di lokasi, 1 minggu libur di Perth.
Disinilah semua perihal itu terbayar. Gaji FIFO gede. Tapi yang gede itu bukan cuma angka di slip gaji, tapi pengorbanannya. Selama di site, gue gak punya hidup. Hiburan cuma nelpon keluarga yang seringkali putus-putus karena sinyal. Kangen sama suara adik, sama masakan nyokap, sama keramaian pasar di Tangerang. Gue bersihin toilet orang yang mungkin gajinya sepuluh kali lipat gue, tapi gue tepuk dada: ini halal. Gue pelatin lantai sampai berkilau, bayangin setiap sapu itu adalah satu langkah lagi mendekati rumah.
Uang gue kumpulin pelan-pelan. Gak jajan, gak beli barang mewah. Uang libur gue hemat-hematin. Tabungan gue dari gaji bersih, overtime, dan bonus, gue simpan semua. Mimpi gue cuma satu: pulang bawa sesuatu yang bisa bikin keluarga lega.
Hari ini, duduk di kasur kos yang tipis, gue buka aplikasi bank. Saldo: $98,754. Gue konversiin ke rupiah: 1,5 miliar lebih. Gue tepuk laptop tua gue yang layarnya retak. Inget tiga taun lalu gue di sini, pertama kali dateng, gak punya apa-apa cuma nekat.
Gue belum berhenti. Masih ada kontrak 6 bulan lagi. Tapi malam ini, gue izinin diri gue buat nangis. Nangis karena rindu Tangerang udah jadi sakit fisik. Nangis karena bapak gue yang tukang service AC gak pernah minta apa-apa, cuma bilang, “Sehat-sehat ya, Nak.” Nangis karena gue sadar, 1,5 miliar ini bukan cuma angka. Ini setiap peluh yang bercampur cairan pembersih lantai, setiap malam begadang karena jetlag dan sepi, setiap senyum paksa ke bos yang merendahkan, setiap “I’m okay” yang terpaksa gue ucapin ke orang tua.
Ini harga dari tiga tahun tanpa pelukan, tanpa kehangatan keluarga, tanpa rasa “pulang” yang sesungguhnya.
Tapi besok pagi, gue akan terbang lagi ke tanah merah. Dengan satu keyakinan baru: bahwa pengorbanan ini akan berakhir. Bahwa sebentar lagi, gue akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta bukan sebagai turis, bukan sebagai pelajar, tapi sebagai Febian Rachman, anak Tangerang yang pulang dengan membawa “emas” yang bukan untuk pamer, tapi untuk membeli satu hal yang paling mahal: waktu tenang untuk orang tua, dan masa depan yang lebih tentram untuk adik-adik gue.
Dan mungkin, cuma mungkin, nanti gue akan tidur nyenyak di rumah sendiri, tanpa perlu memikirkan shift esok hari. Mimpi sederhana yang harganya 1,5 miliar dan tiga tahun masa muda yang terkubur di tanah merah Australia.