Purbaya: Berhubungan Dengan Ekonomi, Banyak WNI Memilih Bekerja Di Luar Negeri


Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya: Berhubungan Dengan Ekonomi, Banyak WNI Memilih Bekerja Di Luar Negeri

Sekarang banyak WNI generasi muda maupun tua yang memilih bekerja di luar negeri.

WNI yang bekerja di luar negeri berada tersebar pada beberapa benua seperti Eropa, Asia, dan Amerika.

Ternyata ada beberapa penyebab banyak WNI memilih bekerja di luar negeri. Bahkan, Menkeu Purbaya menyebutkan salah satu penyebabnya berhubungan dengan ekonomi.

Banyak WNI memilih bekerja di luar negeri. Terdapat beberapa penyebabnya. Pertama adalah karena kurangnya lapangan pekerjaan di dalam negeri.

Kedua adalah terjadinya perlambatan ekonomi. Soal perlambatan ekonomi juga disebutkan oleh Menkeu Purbaya.

“Banyak anak (generasi muda) yang kerja di luar negeri itu karena kegagalan kita (pemerintah) menciptakan lapangan kerja di dalam negeri, waktu pertumbuhan ekonominya lambat seperti itu kemarin-kemarin,” ujarnya.

Terdapat juga penyebab ketiga yaitu masalah gaji. Di luar negeri, upah atau gaji WNI bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat daripada dalam negeri.

Penyebab keempat adalah stabilitas pekerjaan. Pekerjaan di luar negeri menggunakan kontrak kerja yang jelas.

Penyebab kelima yaitu sistem pekerjaan yang lebih tertata. Di luar negeri terdapat pekerjaan paruh waktu atau pekerja penuh waktu yang gajinya berdasarkan per jam, bukan per bulan.

Penyebab keenam adalah upah lembur. Di luar negeri apabila terjadi lembur, maka pekerja diberikan upah lembur. Sementara di dalam negeri tidak semua kantor memberikan upah lembur.

Penyebab ketujuh yaitu hak pekerja dipenuhi. Hak pekerja ini seperti cuti maupun pemberian asuransi kesehatan dan lain-lain.

Sedangkan di dalam negeri, sering perusahaan tidak memberikan hak pekerja seperti asuransi kesehatan atau cuti.

Di luar negeri juga gaji atau upah dipotong untuk pajak, tetapi di dalam negeri ada yang untuk perusahaan, sehingga pekerja tidak menerima upah bersih setelah dipotong pajak. Pemotongan upah yang besar melebihi 50% juga menyalahi aturan yaitu PP Nomor 36 Tahun 2021.

Penyebab kedelapan yaitu soal kesejahteraan pekerja. Banyak pekerja di luar negeri yang baru bekerja beberapa lama sudah bisa lebih sejahtera.

Selain karena upah atau gaji lebih besar, ternyata faktor persyaratan lowongan pekerjaan juga berpengaruh.

Persyaratan di luar negeri lebih melihat sifat dan kemampuan dasar. Sedangkan di dalam negeri terdapat syarat usia, pengalaman minimal berapa tahun di bidang yang sama, bahkan domisili serta persyaratan lainnya yang rumit.

Penyebab kesembilan adalah mengubah hidup. Apabila dalam negeri banyak tuntutan tetapi gaji tidak sebanding atau dihargai, maka di luar negeri banyak WNI bisa mengubah nasib mereka dengan bekerja lebih santai, dihargai, dan gaji lebih besar.


Kegelisahan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memuncak setelah pemerintah memastikan penerimaan pajak 2025 akan meleset dari target.

Dalam sebuah penjelasan resmi, Purbaya blak-blakan mengaku sampai sulit tidur memikirkan melemahnya penerimaan negara dan ancaman defisit APBN yang terus mengintai.
Pengakuan itu sontak membuat publik terkejut sekaligus menyoroti betapa seriusnya tekanan fiskal yang sedang dihadapi pemerintah.

Kekhawatiran Purbaya bukan tanpa alasan.

Data terbaru menunjukkan realisasi penerimaan pajak hingga Oktober 2025 baru mencapai sekitar Rp1.459 triliun atau 70,2 persen dari target outlook.

Angka ini bahkan turun 3,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kegelisahan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memuncak setelah pemerintah memastikan penerimaan pajak 2025 akan meleset dari target.

Dalam sebuah penjelasan resmi, Purbaya blak-blakan mengaku sampai sulit tidur memikirkan melemahnya penerimaan negara dan ancaman defisit APBN yang terus mengintai.
Pengakuan itu sontak membuat publik terkejut sekaligus menyoroti betapa seriusnya tekanan fiskal yang sedang dihadapi pemerintah.

Kekhawatiran Purbaya bukan tanpa alasan.

Data terbaru menunjukkan realisasi penerimaan pajak hingga Oktober 2025 baru mencapai sekitar Rp1.459 triliun atau 70,2 persen dari target outlook.

Angka ini bahkan turun 3,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.